PENGMAS


Pengabdian Masyarakat adalah salah satu Tri Dharma yang saat ini sangat populer di KBM FKIK UMY. Semua organisasi di FKIK ini tergila-gila pada kegiatan ini, sehingga hampir menjadi proker yang umum dimiliki oleh semua organisasi. Bahkan terkadang sampai konflik lahir ataupun batin antar organisasi dalam pelaksanaan Tri Dharma ini. Semua itu terjadi karena bidang ini sangat menjanjikan bagi suatu organisasi. Dengan mengeksekusi kegiatan pengabdian ini eksistensi organisasi akan semakin diakui, skill-skill bisa dikembangkan, dan yang jelas program pengabdian masyarakat biasanya asik dan menantang. Meski terkesan sporadis dan tidak berjangka panjang dengan follow up dan indikator keberhasilan yang jelas.

Pokoknya mengabdi titik. Nggak peduli mau mengabdi seperti apa, nggak peduli apa keperluan masyarakat pokoknya kita memberikan kepada sesuatu pada masyarakat, itulah pengabdian. Benarkah begitu?

Tentu saja tidak. Untuk seukuran organisasi sebesar KBM FKIK UMY, pengabdian masyarakat tidaklah sesempit itu. Pertama-tama kita harus mencari tempat yang benar-benar membutuhkan sesuatu. Misal desa A kekurangannya di bidang kebersihan sehingga penyakit-penyakit sering menyerang desa ini. Lalu desa B, lokasi dekat prostitusi, banyak lelaki terjangkit HIV karena merupakan pengguna jasa prostitusi. Lalu desa C, endemik malaria. Desa D, endemik Demam Berdarah. Desa E, kematian ibu melahirkan dan mortalitas bayi tinggi. Lalu Desa F, pendidikan sangat minim, tidak ada yang mau sekolah berakibat pada permasalahan ekonomi. Lalu Desa G, kristenisasi merajalela, warga menukar agama dengan supermi satu dus karena kelaparan. Desa H, kematian muda sangat tinggi karena tingkat merokok masyarakat sangat sangat tinggi.

Siapa yang bertanggungjawab merubah desa-desa yang saya sebutkan di atas?

Apa yang selama ini kita lakukan?

Datang ke suatu desa, lalu melakukan kegiatan, nggak peduli manfaat atau tidak. Yang penting program terlaksana. Yang penting mengabdi.

Itulah tugas dari pengmas BEM, yang akan mengarahkan kegiatan pengabdian masyarakat FKIK kepada arah yang jelas dan profesional. Tidak lagi sporadis dan bersifat hit and run. Organisasi yang bergerak di bidang ini sudah sangat banyak di FKIK ini, tapi kita belum bisa memperbaiki satu desa pun. Betapa lemahnya kita ketika sendiri-sendiri, dan kita akan kuat saat kita berjalan bersama.

Pengmas akan menjadi wadah bagi semua kegiatan pengabdian masyarakat, bukan hanya desa yang perlu bantuan yang akan kita eksekusi. Ternyata masih banyak sekali pihak-pihak yang butuh uluran tangan kita selain desa-desa di sekitar UMY.

Kawula muda yang banyak problematika dari mulai napza, seks bebas, alkohol, rokok, komunitas om-om nakal, masyarakat daerah rawan bencana, anak-anak SMA yang butuh skill-skill kesehatan, anak-anak putus sekolah, panti asuhan, pondok pesantren islam, pondok pesantren muhammadiyah, panti jompo, playgroup-playgroup, anak-anak TK dan SD, anak-anak jalanan, gelandangan, rumah sakit jiwa, pasien-pasien gagal ginjal yang cuci darah seumur hidup, pasien-pasien penyakit kronis yang tidak punya biaya, orang-orang cacat atau berkebutuhan khusus, pekerja seks komersial, banci-banci pengamen, dan masih banyak lagi.

Harapan dari adanya menteri pengmas ini akan menambah referensi dan optimalisasi kegiatan pengabdian masyarakat di FKIK UMY ini. Sehingga amalan yang kita lakukan tidak lagi sia-sia, melainkan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s